Belajar Menata Kehidupan Setelah Bencana Alam
Semua orang pasti merasa terpukul atas bencana alam yang telah melanda sejumlah wilayah di Tanah Air, terutama di Sumatra. Rasa kaget, takut, dan kehilangan yang timbul akibatnya adalah hal yang wajar dan bahkan sangat manusiawi. Namun, pada akhirnya langkah kehidupan harus diteruskan. Kita harus berusaha bersabar dan mengikhlaskan seluruhnya, lalu menata kembali kehidupan baru yang lebih baik.
Tanah air tercinta, Indonesia, kembali menghadapi rangkaian bencana yang menguji kesiapan dan kepedulian kita sebagai satu bangsa. Kita melihat banjir, longsor, dan cuaca ekstrem muncul silih berganti di berbagai daerah. Kita juga menyadari bahwa perubahan iklim memperburuk kondisi alam yang rusak akibat ulah manusia. Semuanya terjadi seakan-akan kita diajak untuk lebih peduli, lebih bersatu, dan lebih rendah hati di hadapan kekuasaan Allah Swt.
Apalagi di Sumatra, tiga provinsi mengalami kerusakan akibat bencana alam yang membuat warga kehilangan rumah, pekerjaan, dan sanak saudara. Kita menyaksikan bagaimana mereka berusaha bertahan dengan tenaga yang tersisa
Sehingga sudah selayaknya kita merasa terpanggil untuk membantu, meski dengan kontribusi terkecil sekali pun, dengan berdonasi ke lembaga terpercaya misalnya. Selain itu, kita juga harus menyadari bahwa melalui solidaritas dalam bentuk warga jaga warga merupakan kekuatan yang sebaiknya selalu hidup dalam diri umat.
Akan tetapi, di balik semua musibah yang telah terjadi tersebut, seakan kita diajak kembali merenungi firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 155 tentang ujian berupa rasa takut, lapar, kehilangan harta, jiwa, dan hasil usaha dari ladang serta perkebunan.
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ
Artinya: “Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan.” (QS. Al-Baqarah: 155)
Musibah bagi orang-orang yang beriman, seperti yang dijelaskan dalam ayat di atas, merupakan kepastian dari Allah Swt. Rasa takut, kurangnya makanan, hilangnya harta, berkurangnya jiwa, dan sedikitnya hasil bumi adalah bentuk ujian yang pasti datang. Sebagaimana hal ini dijelaskan oleh Syekh Wahbah Az-Zuhaili dalam kitab Tafsirul Munir, jilid 2, halaman 40:
ثُمَّ أَقْسَمَ اللّٰهُ تَعَالَى فَقَالَ: وَاللّٰهِ لَنُصِيبَنَّكُمْ أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ بِشَيْءٍ قَلِيلٍ مِنْ خَوْفِ الْعَدُوِّ فِي الْقِتَالِ، وَالْجُوعِ بِالْجَدْبِ وَالْقَحْطِ، وَنَقْصِ الْأَمْوَالِ بِضَيَاعِهَا، وَالْأَنْفُسِ بِمَوْتِهَا بِسَبَبِ الِاشْتِغَالِ بِقِتَالِ الْكُفَّارِ وَغَيْرِهِ، وَالثَّمَرَاتِ بِقِلَّتِهَا.
Artinya: “Kemudian Allah Ta‘ala bersumpah seraya berfirman (dalam QS. Al-Baqarah ayat 155): ”Demi Allah, Kami sungguh akan menimpakan kepada kalian, wahai orang-orang beriman, sebagian ujian berupa sedikit rasa takut terhadap musuh ketika berperang, kelaparan akibat kekeringan dan paceklik, berkurangnya harta karena hilang, berkurangnya jiwa karena kematian saat menghadapi kaum kafir dan sebab-sebab lainnya (seperti bencana alam), serta berkurangnya hasil bumi karena sedikitnya panen.”
Musibah seperti bencana alam ini merupakan salah satu ujian dari Allah Swt. Meskipun sering kali penyebabnya timbul karena ulah keserakahan umat manusia. Namun hal yang paling penting untuk saat ini ialah, berusaha sabar atas apa yang terjadi, mengikhlaskan apa yang hilang, tetap mengusahakan segala hal baik, dan mengevaluasi apa saja yang kita perbuat kepada sesama, Tuhan dan alam semesta raya ini. Selanjutnya dengan bersabar dan tetap berjuang di tengah musibah, seperti tatkala dilanda bencana alam, kita pasti akan mendapatkan sesuatu yang lebih baik.
Allah berfirman:
وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ، اَلَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ ۗ قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَۗ، اُولٰۤىِٕكَ عَلَيْهِمْ صَلَوٰتٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۗوَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُهْتَدُوْنَ
Artinya: “Sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad,) kabar gembira kepada orang-orang sabar [155], (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan “Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn” (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kami akan kembali) [156]. Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk [157].” (QS. Al-Baqarah[2]: 155-157)
Setiap musibah bencana alam adalah ujian yang datang dengan penuh hikmah. Kita diajarkan untuk jangan pernah berputus asa, tetap bersabar, dan terus berjuang memperbaiki keadaan. Ujian Allah pada hakikatnya dapat menguatkan hati, mengokohkan iman, dan mengingatkan bahwa pertolongan-Nya selalu dekat bagi setiap hamba yang senantiasa bertawakal setelah berusaha dengan maksimal.
Namun di sisi lain, musibah juga bisa menjadi cerminan bagi kita semua. Banyak bencana terjadi bukan hanya karena faktor alam, tetapi juga akibat ulah kita sebagai manusia yang serakah dan merusak keseimbangan lingkungan. Karena itu, kita wajib melakukan evaluasi pola hidup, cara mengelola dan memperlakukan alam, serta menetapkan kebijakan yang lebih baik. Semoga Allah membimbing langkah kita menuju perubahan yang lebih baik dan lebih berkah ke depannya.
